• 2 Oktober 2022
  • Pemberitaan Faktual
  • 0

i tengah riuhnya kontestasi politik nasional dan lokal, publik sering terjebak pada pandangan sempit: politik hanyalah arena perebutan kekuasaan. Padahal, dalam makna sejatinya, politik adalah seni mengelola perbedaan demi kemaslahatan bersama.

Sayangnya, narasi politik kita sering kali didominasi oleh polarisasi identitas, pertarungan elite, dan retorika tanpa substansi. Padahal rakyat butuh lebih dari sekadar janji. Mereka mendambakan kebijakan nyata yang berpihak—dalam pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan keadilan.

Sudah saatnya politik dikembalikan ke akar etisnya: sebagai jalan pelayanan dan tanggung jawab moral. Pemimpin bukan hanya dipilih karena popularitasnya, tapi karena keberpihakan dan keberanian moralnya dalam menghadapi tantangan zaman.

Masyarakat pun perlu beranjak dari apatisme menuju partisipasi aktif. Demokrasi sehat hanya lahir dari rakyat yang melek informasi dan sadar peran. Saat politik menjadi alat perubahan, bukan sekadar kekuasaan, maka masa depan bangsa akan lebih bernilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share to...